Banyak sekali definisi dan
penjelasan yang diberikan kalangan ilmuwan tentang esensi dan hakikat manusia.
Sebagai contoh, sebagian dari mereka menganggap manusia tidak lebih dari seekor
binatang yang tidak mempunyai perbedaan substansial dengan binatang-binatang
lain. Dalam keyakinan mereka, manusia adalah binatang yang telah memperoleh
kesempurnaan namun belum melewati batas-batas kebinatangannya, sehingga seluruh
perbuatan, perilaku, karakter dan bahkan ilmu dan pemikirannya tidak lebih
bersumber dari pengaruh-pengaruh dan kebutuhan-kebutuhan materi. Mereka
meyakini manusia itu maujud materi dan hanya mempunyai satu dimensi, dan tidak
mempercayai sedikit pun akan adanya ruh, dan bahkan mereka mengatakan bahwa ruh
dan jiwa manusia tidak lebih bersumber dari reaksi kimiawi materi.
Atas dasar keyakinan ini lalu mereka mendefinisikan manusia sebagai hewan pembuat alat, hewan pembangun, hewan penghasil barang dan hewan yang dapat berbicara. Namun di sini, kita tidak bermaksud mengritisi definisi-definisi tersebut.
Atas dasar keyakinan ini lalu mereka mendefinisikan manusia sebagai hewan pembuat alat, hewan pembangun, hewan penghasil barang dan hewan yang dapat berbicara. Namun di sini, kita tidak bermaksud mengritisi definisi-definisi tersebut.
Di sisi lain, sekelompok ilmuwan lain menganggap manusia sebagai maujud yang bebas, spesial, luhur dan mulia, yang memiliki kelebihan substansial dari seluruh hewan yang lain. Oleh karena itu, mereka mendefinisikan manusia sebagai berikut: Hewan yang mempunyai jiwa yang dapat berpikir dan memahami hakikat-hakikat universal. Jiwa dan akal inilah, yang merupakan zat dan hakikat manusia, yang menjadikannya berbeda dari seluruh hewan yang lain.
Seluruh nabi dan agama samawi mendefinisikan manusia seperti di atas, dan kita pun dalam pembahasan ini akan mengkaji manusia dari sudut pandang Islam.
0 komentar:
Posting Komentar